Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair yang lahir di Solo, 20 Maret 1940. Beliau menerbitkan buku puisi pertamanya pada tahun 1969. Goenawan Mohamad pun membuat testimoni bahwa sajak-sajak awal 70an umumnya adalah sajak-sajak yang bila dibaca penyair lain akan menimbulkan seru, "Mengapa saya tidak menulis seperti itu tentang itu!". Dengan kata lain, merupakan puisi-puisi yang harus (karena layak) dicemburui.
Menurut saya, waktu hujan dan sedang kasmaran adalah saat yang paling cocok untuk membaca, menikmati, meresapi puisi Sapardi - dengan kata lain saya menyebutnya "nyapardi".
Berikut adalah 2 karya masterpiece dari Sapardi Djoko Damono yang saya tulis ulang sebagai penghormatan kepada beliau.
***
Aku Ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(1989)
***
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulanJuni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(1989)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar