Sabtu, 21 Februari 2015

Nyapardi

Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair yang lahir di Solo, 20 Maret 1940. Beliau menerbitkan buku puisi pertamanya pada tahun 1969. Goenawan Mohamad pun membuat testimoni bahwa sajak-sajak awal 70an umumnya adalah sajak-sajak yang bila dibaca penyair lain akan menimbulkan seru, "Mengapa saya tidak menulis seperti itu tentang itu!". Dengan kata lain, merupakan puisi-puisi yang harus (karena layak) dicemburui.
Menurut saya, waktu hujan dan sedang kasmaran adalah saat yang paling cocok untuk membaca, menikmati, meresapi puisi Sapardi - dengan kata lain saya menyebutnya "nyapardi".
Berikut adalah 2 karya masterpiece dari Sapardi Djoko Damono yang saya tulis ulang sebagai penghormatan kepada beliau.
***

Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(1989)

***

Hujan Bulan Juni

tak  ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulanJuni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(1989)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar