Kamu suka membaca dan membeli buku?
Apakah kamu pernah mengalami masa orde baru?
Apakah kamu pernah mendengar berita tentang kehidupan penyair yang lantang menyerukan pemikirannya pada masa itu?
Semoga kamu tahu atau minimal pernah membaca atau mendengarnya.
Saya akan menulis ulang puisi dari Widji Thukul yang berjudul Catatan.
***
Catatan
udara AC asing di tubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual terkemuka
tetapi harganya
Ooo.. aku ternganga
musik stereo mengitariku
penjaga stand cantik-cantik
sandal jepit dan ubin mengkilat
betapa jauh jarak kami
uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat 2 buku
untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu
gemerlap toko-toko di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 Februari 2015
Sabtu, 21 Februari 2015
Nyapardi
Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair yang lahir di Solo, 20 Maret 1940. Beliau menerbitkan buku puisi pertamanya pada tahun 1969. Goenawan Mohamad pun membuat testimoni bahwa sajak-sajak awal 70an umumnya adalah sajak-sajak yang bila dibaca penyair lain akan menimbulkan seru, "Mengapa saya tidak menulis seperti itu tentang itu!". Dengan kata lain, merupakan puisi-puisi yang harus (karena layak) dicemburui.
Menurut saya, waktu hujan dan sedang kasmaran adalah saat yang paling cocok untuk membaca, menikmati, meresapi puisi Sapardi - dengan kata lain saya menyebutnya "nyapardi".
Berikut adalah 2 karya masterpiece dari Sapardi Djoko Damono yang saya tulis ulang sebagai penghormatan kepada beliau.
***
Aku Ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(1989)
***
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulanJuni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(1989)
Jumat, 20 Februari 2015
Pemberitahuan Chairil
Saya akan menulis ulang salah satu puisi favorit saya dari Chairil Anwar yang berjudul Pemberian Tahu
Pemberian Tahu
Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,
Kita berpeluk ciuman tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis d kapal, di laut tidak bernama
Langganan:
Postingan (Atom)