Doa
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
(13 November 1943)
Karya Chairil Anwar
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 Maret 2015
Dengar Suaramu
aku ingin mendengar suaramu
sebagai pengantar tidur malam ini
walau dari ujung telepon
aku ingin mendengar suaramu
sebagai penawar kebisingan hari ini
melegakan hati
aku ingin mendengar suaramu
walau berbisik
tapi tetap asik
aku ingin mendengar suaramu
jangan teriakkan sepimu
angin sampaikan salamku
(November 2013)
sebagai pengantar tidur malam ini
walau dari ujung telepon
aku ingin mendengar suaramu
sebagai penawar kebisingan hari ini
melegakan hati
aku ingin mendengar suaramu
walau berbisik
tapi tetap asik
aku ingin mendengar suaramu
jangan teriakkan sepimu
angin sampaikan salamku
(November 2013)
Jumat, 27 Februari 2015
Kunci dan Resleting
Kunci dan Resleting
dari sakumu keluar beraneka kunci
paling besar kunci mobil
paling kecil jarang diambil
sengaja kau pamerkan atau tidak
itu tergantung niatmu
ini sekolah
bukan ajang menebar pongah
merayu siswi dengan iming materi
keluar malam pulang hampir pagi
rekaman video tersebar suatu hari
katanya bentuk dokumentasi
asu!
camkan ini di jidatmu
yang harus dikunci itu resletingmu
(2006)
dari sakumu keluar beraneka kunci
paling besar kunci mobil
paling kecil jarang diambil
sengaja kau pamerkan atau tidak
itu tergantung niatmu
ini sekolah
bukan ajang menebar pongah
merayu siswi dengan iming materi
keluar malam pulang hampir pagi
rekaman video tersebar suatu hari
katanya bentuk dokumentasi
asu!
camkan ini di jidatmu
yang harus dikunci itu resletingmu
(2006)
Sabtu, 21 Februari 2015
Sehabis Hujan
Sehabis Hujan
hujan yang berlalu
meninggalkan jejak pepohonan yang basah
dedaunan meneteskan airnya
melihat kau sendirian dalam kamarmu
pejamkan matamu
apakah kau dengar suara katak bersahut-sahutan?
dipadu semarak suara jangkrik
hembusan angin membelai rambutmu
setiap tarikan nafasmu malam itu
menuntunmu untuk terlelap
lupakan bayang sendu masa lalu
esok pagi menjelang
hangatnya harapan pun terbit
bangkitkan semangatmu!
hujan yang berlalu
meninggalkan jejak pepohonan yang basah
dedaunan meneteskan airnya
melihat kau sendirian dalam kamarmu
pejamkan matamu
apakah kau dengar suara katak bersahut-sahutan?
dipadu semarak suara jangkrik
hembusan angin membelai rambutmu
setiap tarikan nafasmu malam itu
menuntunmu untuk terlelap
lupakan bayang sendu masa lalu
esok pagi menjelang
hangatnya harapan pun terbit
bangkitkan semangatmu!
Bingkai Lukisan
Bingkai Lukisan
Apakah ada nasi untuk perut yang kelaparan?
ada, ambil jatah raskinmu
bagaimana aku menanaknya?
harga tabung gas naik
aku tak mampu membelinya
sambungan listrik pun telah diputus
kalau begitu gunakan kayu bakar dari figura lukisanmu
lukisan yang kau buat dan kau jual jika kau butuh uang
tapi lukisan dan bingkainya itu sangat bermakna bagiku
ah, itu hanya lukisan masa lalumu
kau hanya membakar bingkainya
keindahannya masih dapat kau simpan
Apakah ada nasi untuk perut yang kelaparan?
ada, ambil jatah raskinmu
bagaimana aku menanaknya?
harga tabung gas naik
aku tak mampu membelinya
sambungan listrik pun telah diputus
kalau begitu gunakan kayu bakar dari figura lukisanmu
lukisan yang kau buat dan kau jual jika kau butuh uang
tapi lukisan dan bingkainya itu sangat bermakna bagiku
ah, itu hanya lukisan masa lalumu
kau hanya membakar bingkainya
keindahannya masih dapat kau simpan
Sudut Stasiun
Sudut Stasiun
kereta telah sampai pukul dua pagi
menggigil badanku meringkuk di sudut stasiun
lelah yang kurasakan bercampur dengan dingin
istirahatlah sejenak hai angin
adzan subuh belum berkumandang
bus dalam kota pun belum mengejar setoran
pagi cepatlah datang
supaya lekas melanjutkan perjalanan
kereta telah sampai pukul dua pagi
menggigil badanku meringkuk di sudut stasiun
lelah yang kurasakan bercampur dengan dingin
istirahatlah sejenak hai angin
adzan subuh belum berkumandang
bus dalam kota pun belum mengejar setoran
pagi cepatlah datang
supaya lekas melanjutkan perjalanan
Senyum Termanis
Senyum Termanis
jarak adalah sebuah kata
aku di sini kau di sana
memandang langit dan awan berarak
sungai jernih yang beriak
rindu yang bergerak
lebih cepat daripada raga
ingin kubertemu denganmu
apakah engkau rindu sebagaimana aku rindu
khayalku, anganku, mimpiku
campur menjadi satu di otak ku
apakah senyummu masih seperti dulu
ketika bertemu denganku
atau kau hanya terdiam membisu
ingin cepat berlalu dari hadapanku
dulu pupil matamu membesar tiap kita berhadapan
penuh antusias kau nantikan tiap kata
mengalir dari mulutku
kau perhatikan gerak bibirku
kuterpana akan keluguanmu
kau berikan senyum termanis pada hari itu
jarak adalah sebuah kata
aku di sini kau di sana
memandang langit dan awan berarak
sungai jernih yang beriak
rindu yang bergerak
lebih cepat daripada raga
ingin kubertemu denganmu
apakah engkau rindu sebagaimana aku rindu
khayalku, anganku, mimpiku
campur menjadi satu di otak ku
apakah senyummu masih seperti dulu
ketika bertemu denganku
atau kau hanya terdiam membisu
ingin cepat berlalu dari hadapanku
dulu pupil matamu membesar tiap kita berhadapan
penuh antusias kau nantikan tiap kata
mengalir dari mulutku
kau perhatikan gerak bibirku
kuterpana akan keluguanmu
kau berikan senyum termanis pada hari itu
Kopi Senja
Kopi Senja
menuju temaram dengan secangkir kopi
kali ini di tempat yang katanya eksklusif
matahari belum tenggelam
hingga perlahan terbenam
lampu remang mulai dinyalakan
perbincangan di tempat itu mulai ramai
lima ibu-ibu muda
salah satunya membawa anaknya masih balita
mereka asyik bercerita
seputar barang belanja
walau belum butuh tak mengapa
yang penting terkenal dan mahal
pahit!
kutambahkan lagi gula
harga minuman ini cukup untuk menraktir sepuluh temanku
di warung kopi ujung gang rumahku
menuju temaram dengan secangkir kopi
kali ini di tempat yang katanya eksklusif
matahari belum tenggelam
hingga perlahan terbenam
lampu remang mulai dinyalakan
perbincangan di tempat itu mulai ramai
lima ibu-ibu muda
salah satunya membawa anaknya masih balita
mereka asyik bercerita
seputar barang belanja
walau belum butuh tak mengapa
yang penting terkenal dan mahal
pahit!
kutambahkan lagi gula
harga minuman ini cukup untuk menraktir sepuluh temanku
di warung kopi ujung gang rumahku
Kamar
Kamar
suara kipas angin tua
masih bisa menoleh ke kanan dan ke kiri
membuat suasana kamar tak terlalu sepi
lukisan yang sering dipandangi
tumpukan kertas dan buku-buku belum tersusun rapi
bersanding dengan secangkir kopi
tirai jendela sebagian terbuka
mengizinkan masuk cahaya matahari pagi
Bisa jadi dari kamar itulah awal revolusi
suara kipas angin tua
masih bisa menoleh ke kanan dan ke kiri
membuat suasana kamar tak terlalu sepi
lukisan yang sering dipandangi
tumpukan kertas dan buku-buku belum tersusun rapi
bersanding dengan secangkir kopi
tirai jendela sebagian terbuka
mengizinkan masuk cahaya matahari pagi
Bisa jadi dari kamar itulah awal revolusi
étude en Belgique
étude en Belgique
Belgia dengan segala nostalgia
Menuntut ilmu jauh dari keluarga
Menyusuri Brussel menenteng ransel
Semangatku menggelora dibalik mantel
Kurasakan musim dingin pertama
Salju turun perlahan seirama
Aku di sini takkan lama
Setahun lagi aku masih orang yang sama
Masihkah ada rindu yang kausisakan
saat kita tak lagi bersama
Belgia dengan segala nostalgia
Menuntut ilmu jauh dari keluarga
Menyusuri Brussel menenteng ransel
Semangatku menggelora dibalik mantel
Kurasakan musim dingin pertama
Salju turun perlahan seirama
Aku di sini takkan lama
Setahun lagi aku masih orang yang sama
Masihkah ada rindu yang kausisakan
saat kita tak lagi bersama
Langganan:
Postingan (Atom)