Jumat, 27 Maret 2015

Penempatan di Tobelo ini Hanya Sementara

*sebuah catatan pendek untuk penempatan pertama

      Saya masih ingat pada suatu hari di awal April 2013, ketika saya bersiap untuk berangkat ke Tobelo, sebuah kota yang terletak di utara Pulau Halmahera, Maluku Utara. Saya membawa ransel dan koper besar berwarna hitam - biru berisi pakaian, sepatu, dan barang - barang lain yang biasanya dibawa saat bepergian ke tempat yang jauh. Saya janjian dengan kedua teman saya seangkatan yang penempatan di Tobelo (Gabriel dan Surio) untuk bertemu di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dan berangkat bersama. Sebelumnya saya pergi ke Magelang untuk singgah ke rumah pakde yang berada dekat dengan Candi Borobudur sekaligus mampir ke rumah Gabriel untuk berangkat bersama dari Magelang ke Jakarta. Kami pun naik mobil ke Jakarta diantar kedua orang tua Gabriel. Dalam perjalanan, kami singgah ke beberapa rumah makan untuk memuaskan selera makan kami dengan masakan kampung halaman sebelum makan kuliner baru di tanah rantau.
      Sesampainya di Jakarta, kami sudah ditunggu Surio di bandara. Pesawat Lion Air berangkat hari Senin sekitar pukul 01.00 WIB dini hari dengan tujuan Manado. Setelah sampai di Manado kami lanjut naik Wings Air, pesawat kecil dengan baling-baling ganda rute Manado - Kao pukul 06.00 WITA. Pada waktu itu jadwal penerbangan maskapai tersebut  masih 3 kali dalam satu minggu yaitu hari Senin, Rabu, dan Jumat. Belum seperti sekarang yang jadwal penerbangannya sudah setiap hari. Itulah pengalaman pertama saya naik pesawat twin otter. Cukup menegangkan pada saat take off, beruntung waktu itu pramugarinya manis sehingga paling tidak kecemasan saya pun teralihkan. Saat mendarat di bandara Kao, saya melihat ada sebuah gundukan besar seperti bunker dan memang benar itu adalah bunker peninggalan Jepang pada saat Perang Dunia ke II. Setelah turun dari pesawat, kami menyempatkan untuk foto-foto di bunker tersebut. Kru pesawat beserta pramugarinya juga ikut berfoto di lokasi itu. Sayangnya kami belum sempat foto bersama pramugari yang manis itu karena kami dikagetkan oleh suara yang memanggil dari kejauhan. "Suriooo!!", kamipun menoleh ke arah sumber suara. Nampak Pak Rahmansyah melambaikan tangan ke arah kami. Beliau pernah sekantor dengan Surio di KPP Pratama Purwokerto sebelum promosi menjadi Kepala Seksi Pelayanan di KPP Pratama Tobelo. Rupanya Pak Rahman akan pergi dinas ke Manado bersama kepala seksi yang lainnya yaitu Pak Audie. Mereka diantar oleh Rifandy dengan menggunakan mobil kantor. Kebetulan kami datang pada saat yang tepat sehingga bisa sekalian langsung dijemput dengan mobil itu pula.
      Kao - Tobelo ditempuh dalam waktu satu setengah jam perjalanan darat. Jalannya mulus dan banyak sekali pohon kelapa yang tumbuh di sisi jalan. Kita juga dapat melihat pantai dan laut di sekitar pelabuhan Kao. Di seberangnya nampak pulau yang bernama Pulau Bobale. Katanya disitu penghasil mutiara dari Halmahera Utara. Begitu memasuki gerbang masuk Kota Tobelo, kota ini memang kota yang paling ramai di Pulau Halmahera. Sofifi yang merupakan Ibukota Maluku Utara pun kalah ramai dengan Tobelo. Nampak sektor perekonomian begitu berkembang. Pembangunan ada di mana-mana. Baik jalan, saluran drainase, ruko-ruko baru, dan kawasan pertokoan sedang dalam proses pengerjaan. Pasar terlihat ramai, banyak yang berjualan kopra, rempah-rempah, sayur mayur, buah-buahan, ikan segar, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Pembeli di pasar tetap ramai walaupun di dekatnya ada swalayan Galaxy.
      Akhirnya sampai juga kami di kantor. Saat itu sedang jam istirahat sehingga kami hanya menemui beeberapa pegawai saja. Berhubung kami belum mendapat tempat kos, kami diajak bang Endar untuk sementara menumpang dulu di kosnya daerah Dufa-Dufa dekat Pelabuhan Tobelo sampai kami mendapatkan kos. Papa dan Mama kosnya baik sekali, kami disambut seperti keluarga dari jauh, dihidangkan masakan khas Tobelo seperti kasbi (singkong), pisang goroho, ikan cakalang, sambal dabu-dabu, ikan kuah kuning. Papa dan mama kos juga banyak bercerita tentang  kondisi Tobelo yang mulai membaik pasca kerusuhan silam. Kini Tobelo sedang berkembang menjadi kota perdagangan yang maju dan masih menyimpan pesona keindahan alam seperti pantai (Luari, Kupa-Kupa) dan pulau-pulau di sekitarnya (Kakara,Tagalaya,Morotai). Pengalaman lainnya di Tobelo akan saya tulis pada lain kesempatan.
Salam perjuangan ! Semoga sukses !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar