Kamis, 26 Maret 2015

Memperoleh Derajat Wali Tanpa Meninggalkan Duniawi

      Malam Jumat kemarin saya membaca kultwit dari Pesantren Sidogiri (@sidogiri). Ada ulasan yang cukup menarik tentang memperoleh derajat wali tanpa meninggalkan duniawi. Berikut adalah isi kultwitnya yang saya tulis ulang, semoga bermanfaat.
***
      Sesungguhnya yang menyebabkan kerisauan hati orang ahli ibadah & zuhud adalah karena mereka terhijab melihat Allah dari apa yang mereka lihat. Andaikan mereka telah melihat Allah dalam tiap sesuatu pasti tidak akan risau dari segala sesuatu. Selama ini, ada di antara kita yang menganggap bahwa satu-satunya jalan mendekat kepada Allah adalah dengan cara meninggalkan dunia & pernik-perniknya. Hal ini diekspresikan dengan menyendiri & tinggalkan keramaian, shalat terus menerus, jarang bergaul & nyaris memutus hubungan sosial. Pertanyaannya, benarkah cara ini merupakan cara yang ideal untuk mendekat kepada Allah agar mendapat pangkat yang mulia di sisi-Nya? Jawabannya adalah, cara yang ditempuh dengan model di atas sama sekali bukan satu-satunya cara agar kita menjadi kekasih & mendekat kepada Allah.
      Menuju Allah dengan cara meninggalkan kehidupan duniawi adalah sebuah sikap yang bertentangan dengan naluriah dasar manusia yang hidup di dunia. Allah sendiri di berbagai ayat al-Quran menganjurkan hambanya agar senantiasa memakmurkan bumi dengan berbagai pekerjaan yang sesuai syariat. Allah sendiri di berbagai ayat al-Quran menganjurkan hambanya agar senantiasa memakmurkan bumi dengan berbagai pekerjaan yang sesuai syariat. Contohnya adalah ayat berikut ini: (QS. Hud [11] : 61 .  Intinya adalah, meninggalkan dunia dengan segala kesibukannya bukan satu-satunya jalan menuju Allah. Ini terbutkti di antaranya dari ayat tadi. Hanya saja masih timbul pertanyaan. Bagaimana cara mendekat kepada Allah agar jadi kekasih-Nya tnpa harus meninggalkan kenikmatan duniawi? Ibn Athaillah menjawab bahwa agar kita tak tertipu olh kenikmatan dunia adalah jangan sampai menjadikan hati tergantung kepadanya. Kita dianjurkan bersosialisasi & mengatur dunia ini dengan baik. Jangan hindari. Dengan syarat jangan sampai hati ini tergantung kepadanya (dunia). 
      Tanda hati tergantung kepada dunia adalah selalu gusar, panik & pikiran dibuat bingung oleh urusan dunia. Allah menjadi terabaikan. Hati yg tak tergantung pada pernak-pernik dunia tak akan pernah gusar/ galau dalam persoalan dunia. Keimananlah yang menjadi penyejuk hati. Cara agar hati ini tak tergantung pada urusan dunia adalah selalu menyadari bahwa Allah satu-satunya Sang Maha Pemberi. Dan bahwa manusia ini hanya menjalani drama kehidupan saja. Allah-lah yang menentukan final atau hasil dari semua usaha manusia. Selalu menyadari akan ikut-campurnya Allah di dalam urusan duniawi, akan menjadikan ketergantungan hati kita pada dunia kian menipis. Ulama salaf juga sering mencontohkan bahwa dzikir/mengingat Allah adlh cara ampuh tuk mencapai derajat yg mulia di sisi-Nya.  Dzikir di sini tak hanya diartikan secara literal saja, dzikir yg dimaksud di sini lebih global dari arti dzikir yang dipahami selama ini. Yaitu, sebuah usaha dari kita agar hati ini selalu ingat & menyadari kebesaran & kekuasaan Allah di balik semua urusan yg kita jalani. Apabila kita berhasil menjaga kondisi hati agar senantiasa ingat kepada Allah, maka lambat laun diri kita akan semakin cinta kepada-Nya. Meski perlu diketahui bahwa pada dasarnya, hati manusia adalah mencintai Allah. Hanya saja, ia hilang sebab syahwat & lingkungan yg rusak.
      Senantiasa mengingat & berdzikir kepada Allah adalah upaya untuk mengembalikan kecintaan hati kepada-Nya yang selama ini dirusak oleh nafsu. Ketika hati ini senantiasa mengingat Allah, meski kita selalu sibuk berkecimpung di dlm urusan duniawi, tak ada masalah apa-apa.  Bisa saja nanti PNS, karyawan perusahaan dll, jadi wali Allah, meski terlihat jarang ke masjid, jika hati mereka trus berdzikir kpd-Nya. Barometer seseorang menjadi kekasih Allah itu sejatinya adlh hatinya. Bukan amal prilakunya. Seberapa kuat hatinya bersambung dg Allah. Sehingga jika hatinya sudah semakin menyatu kpd Allah, mau mengerjakan apapun saja yg terlihat & disadari adalah kekuasaan Allah. Demikian, penjelasan singkat Bab-112 malam ini. Moga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar